Jalan-Jalan

Shock Masuk Kampung Orang

Saya sadar bahwa bangsa Indonesia itu punya kultur yang luar biasa banyaknya. Ratusan bahasa, ratusan budaya, ratusan adat istiadat dan kebiasaan. Bener-bener banyak. Tapi yang Saya tidak pernah sadar secara sesadar-sadarnya adalah bahwa tiap etnik itu berbeda. Saya hanya sadar bahwa tiap suku adalah berbeda seperti Batak dengan Jawa, dengan Padang dan lainya. ‘Berbeda’ dalam artian, hanya beda budaya dan kebiasaan.

Tapi, nggak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa perbedaan itu sebegitunya. Amat amat sangat berbeda. Sampai pada saat minggu kemarin Saya pergi ke Makassar menjenguk sahabat Saya di sana. Perjalanan di mulai dari bandara Soekarno-Hatta dan turun di bandara Sultan Hassanudin Makassar.

Shock pertama, baru saja mendarat di Makassar, mungkin kecepatan pesawat masih sekitar 50 km/ jam (nebak) Orang-orang sudah berdiri untuk ambil bagasi yang ada di cabin. Okee, di Jakarta pun orang-orang tidak sabar untuk ambil bagasi yang di cabin, tapi nggak sampai segitunya, minimal tunggu sampai pesawat parkir. Shock kedua, kebayang kan kalau di dalam pesawat itu sempit dan semua orang sibuk ambil bagasi masing-masing. Saya yang duduk dekat dengan lorong sudah otomatis masih duduk manis menunggu sampai orang satu persatu mulai keluar. Mbak-mbak yang disamping Saya sudah tarik-tarik tangan Saya supaya Saya berdiri dan keluar. “helooo,, pintu aja belum dibuka Mbaaak -_- “. Shock ke tiga, akhirnya Saya memilih mengalah untuk berdiri dan ikut desek-desekan di tengah lorong pesawat tadi. Pada akhirnya pintu pesawat di buka dan semua orang berhamburan ingin cepat keluar pesawat. Di depan Saya ada Ibu-ibu setengah baya sedang sibuk dengan banyaknya barang yang dia bawa, otomatis Saya menunggu memberi space untuk Ibu tersebut mengatur dulu barangnya. Ternyata ada bapak-bapak di belakang Saya sudah dorong-dorong memaksa Saya untuk jalan. Dari situ Saya mulai naik darah, kenapa sih nggak sabar banget! Shock ke empat, pada saat keluar bandara setelah ambil bagasi banyak orang-orang mengerubungi “Taksi taksi” “Mau kemana?” “Mbak mbak”. Pernah lihat artis-artis di infotainment kalau lagi dikejar wartawan? ya kurang lebih seperti itu, hanya kurang jepretan kamera dan microphon yang disodor-sodorkan. Okee, di Jakarta juga seperti itu, tapi masih lebih santai kalau menurut Saya.

Akhirnya setelah shocking time yang terjadi, Saya bertemu dengan sahabat Saya dan menceritakan kejadian tadi dan memang menurut Dia kebiasaan semua orang di sana seperti itu. Buat orang Jawa seperti Saya yang sebenernya nggak Jawa Jawa banget, itu bikin shock. Gimana kalau yang Jawa banget ya, haha..

Diluar shocking time itu, Makassar adalah kota yang bagus dan banyak obyek wisata alam yang bagus. Kota yang panas dan Saya baru sadar di sana nggak ada mobil yang jelek. Sepanjang jalan yang Saya lihat mobil-mobil yang ada di sana di atas tahun 2000. Mungkin ada yang di bawah tahun 2000, tapi sejauh mata memandang nggak ada mobil jelek di sana.

Makassar adalah kota di pinggir pantai, atau pantai di tengah kota ya? haha
Pantainya bagus, hanya begitu mau foto banyak bendera salah satu partai sedang menghiasi pantai tersebut, jadinya nggak cucok deh foto-fotonya nanti disangka kampanye. Ada air terjun Parangloe di Gowa, Pelabuhan Paotere, ada benteng juga di sana, Pantai Losari, Mall Trans Studio dan masih banyak lagi.

Anyway, no hard feeling ya yang membaca tulisan ini. Tidak bermaksud untuk menjelekan salah satu suku bangsa 😉

IMG_3811 IMG_3864  IMG_3944 IMG_3999   IMG_4138 IMG_4139 IMG_4143 IMG_4166

IMG_3926IMG_4047

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *