Point of View

Sudah tau Maksa kok Masih Maksa

Malam ini Saya sedang duduk di sebuah cofee shop sambil menunggu macet yang tak kunjung hilang di Kota Jakarta ini. Ada kerjaan sebenarnya yang harus Saya selesaikan. Tapi pusing, lebih baik nge-blog dulu 😀

Berhubung Indonesia sedang dalam edisi pemilu, mari Kita ramaikan Blog ini dengan tulisan seputar Pemilu. Apa sih pemilu? kenapa harus ada pemilu? Pemilu sejatinya adalah proses pemilihan orang-orang yang dipilih untuk mengisi jabatan politik tertentu, untuk mewakilan rakyat untuk duduk di DPR. Tujuan sejatinya adalah untuk dapat mewakilkan suara rakyat di DPR dan dapat membangun Indonesia ke arah yang lebih baik (baca: katanya atau harusnya?).

Btw, Kita tidak akan membahas detail para calon-calon yang diiklankan di tv-tv atau surat kabar atau membahas secara lugas seperti Najwa Shihab bertanya kepada sang wakil rakyat. Saya sempat berpikir untuk tidak mau ikut berpartisipasi dalam pemilu di tahun ini, tapi Saya sempat teringat sewaktu dulu Saya berada di dalam Organisasi Mahasiswa dimana Saya adalah pengurus Organisasi tersebut. Teringat susahnya untuk mengajak orang berpartisipasi untuk ikut pemilu Mahasiswa padahal itu hanya lingkup jurusan. Saya hanya berpikir, bila Saya saat ini duduk sebagai pengurus partai atau anggota DPR atau mungkin jadi pegawai KPU apa nggak pusing saya ngajakin orang satu Indonesia suruh ikut pemilu, wong jaman dulu ngajakin temen-temen ikut pemilu mahasiswa aja rasanya pegel. Akhirnya Saya putuskan untuk berpartisipasi di dalam pemilu tahun ini. Hanya karena Saya tau susahnya jadi panitia pemilu.

Yang sampai saat ini tidak masuk logika Saya adalah, jabatan untuk menjadi calon anggota DPR adalah sesuatu yang belum pasti valid, belum tentu dapet, tapi kok ya banyak orang-orang yang mau mengorbankan harta dan semua yang di punya bela belain ikut dalam kampanye. Okeee, Saya tidak maksud untuk mengharamkan orang-orang yang ikut kampanye, tapi mbok ya kalau sudah terjun ke dalam siapkan mental untuk kalah dengan kondisi apapun, karena Saya lihat banyak calon anggota legislatif menjadi stress dan bahkan gila karena tidak jadi anggota legislatif. Saya jadi bertanya-tanya, ini memang niatnya mengemban tugas negara atau beneran mau cari balik modal dengan kampanye biaya besar-besaran dengan harapan nanti akan kembali sesudah menjabat.

yang nggak masuk logika Saya:

  • Sudah tau tidak pasti masih saja berharap banyak dengan seuatu harapan yang tidak pasti juga
  • Sudah tau tidak pasti kenapa tidak menyiapkan mental untuk hasil terburuk
  • Sudah tau tidak pasti masih saja memaksakan kehendak
  • Sudah tau tidak pasti masih maksa untuk menjadi pasti

Ada salah satu tulisan dari Emha Ainun Najib yang menggelitik tentang anggota DPR, mungkin sudah sering diposting di media social lain:

Nyoblos atau Nyoblos?
(Petikan Catatan dari Cak Nun)Kalau dalam Islam itu sederhana. Kalau misal anda tidak milih, kalau nanti anda berdoa supaya bangsa kita sejahtera, nanti Tuhan mengejek juga: “Lha kamu ndak milih aja kok minta bangsamu sejahtera.”Jadi malamnya shalat dulu kek, kalau nggak sempat ya dalam hati saja berdoa: “Ya Tuhan, gimana ya, mosok saya nggak nyoblos, saya kan warga negara. Saya pilih lah yg kira-kira bagus. Cuma saya kan ndak bisa ngontrol dia, Tuhan. Jadi tolong dong, ini saya pilih satu. Setelah saya pilih dan coblos, saya serahkan kepada-MU. Kalau dia pemimpin yang baik, panjangkan umurnya, beri dia kekuatan, dan bantulah urusan-urusannya. Tapi kalau yang aku pilih ini ternyata pengkhianat, penjilat, penindas rakyat dan sama sekali tidak punya cinta kepada kami-kami yang di bawah ini, mbok dilaknat dengan cepat, mbok cepet-cepet diberi tindakan, Tuhan. Terlalu lama lho kami rakyat Indonesia kayak gini terus bingung nggak habis-habis. Terus kepada siapa dong aku mengeluh? Kepada siapa dong rakyat Indonesia mengeluh? Kepada DPR? Wong mereka itu yang justru kami keluhkan kepada-MU, ya Allah. Jadi tolonglah kami, Tuhan.”(Emha Ainun Najib)

So? Nyoblos atau nyoblos?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *