Aku “Naik Kelas”

Mei 2017:

Disuatu siang yang panas. Di sudut cafe. Sambil menunggu sang kakak yang katanya mau mandi dan segera jalan, tapi tak henti-hentinya menjawab pesan ku di whatsapp, atauuu.. dia membawa serta handphone-nya ke dalam kamar mandi? haha..

Anyway, aku bukan tipe perempuan yang menulis apa yang terjadi di dalam kehidupan ku pada sebuah diary. Honestly, I did. When I was in junior high school. Tapi itu sudah berlampau lampau lamanya. Tapi sekarang aku putuskan untuk coba menulis kembali.

Sambil menunggu sang kakak yang tetap terus mandi dan tidak tau kapan selesainya.

Tahun ini aku berumur 29 tahun. Tahun tahun di mana semua orang dengan gencarnya bertanya“kapan kawin?”, “kapan kawin?”.
Actually, it’s irritating lho..
Beruntung bagi orang-orang yang sudah menemukan pasangannya dan berencana untuk menikah.
Tapi mungkin juga bukan suatu keberuntung bagi orang-orang yang sudah menemukan pasangan, tapi belum mau menikah. Kesannya jadi ganggu lho.. hehe..

Tapi alhamdulilah nya, aku termasuk orang-orang yang beruntung sudah menemukan pasangan dan berencana menikah.
Tapi, drama cerita tidak berhenti disitu saja. Pada saat siap menentukan untuk menikah, banyak juga lho tantangan yang harus dihadapi. Aku adalah orang Indonesia asli keturunan jawa yang masih memegang adat istiadat, interaksi sesama keluarga yang masih dekat, dan berlandaskan bahwa menikah itu bukan antara aku dan kamu tapi antara keluarga aku dan keluarga kamu. Drama kedepan akan semakin menarik dan fluktuatif, seiring dengan meningkatnya kebutuhan sandang dan pangan di negara-negara maju. hahaha..

Aku sekarang sudah “naik kelas”.

Mempersiapkan pernikahan bukan suatu yang mudah. Apalagi dengan cara berpikir aku yang detail, membuat semua nya menjadi terkesan ribet. Awal-awal persiapan, aku saklek dengan planning aku harus bgini dan bgitu.
Tapi seiring berjalanya waktu, aku mengerti, tidak semua berjalan seperti yang apa kita mau dan kita harus bisa menyesuaikan. Ya balik lagi, menikah itu bukan untuk aku kamu saja, tapi untuk bagaimana supaya dua keluarga bisa disatukan. Nggak gampang lho. Komunikasi dengan pasangan juga harus mendukung.

———–

September 2017:

Anyway, aku buka lagi catatan-catatan lama dan ternyata menemukan sedikit coretan ku di atas yang ku tulis di bulan Mei 2017, tapi sepertinya aku terlalu sibuk dengan berbagai urusan persiapan pernikahan, masuk ke kehidupan baru, pindah rumah, penyesuaian dengan lingkungan baru, daaan segala sesuatunya baru.

and now.. Aku “naik kelas” lagi..

Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagaimana perasaan ku saat ini. Tapi aku amat sangat bersyukur dengan apa yang aku punya saat ini. Dengan kekurangan dan kelebihan yang ada, aku berterimakasih telah diberikan kesempatan untuk melewati fase-fase yang selalu berbeda di setiap bertambahnya umur aku.

Leave a Reply

*